banner 728x250

BAZNAS Kotamobagu dan Pemkot Bersinergi, Perkuat Nilai Keagamaan Berbasis Komunitas

banner 120x600

beritasulut.id Kotamobagu – Apresiasi yang disampaikan Ketua BAZNAS Kotamobagu, Kamal Babay, kepada pemerintah daerah dan para muzaki dalam kegiatan pelatihan fardhu kifayah bukan sekadar ungkapan formal. Lebih dari itu, pernyataan tersebut mencerminkan keterkaitan erat antara dukungan pemerintah, partisipasi umat, dan keberlangsungan program sosial-keagamaan di tingkat lokal.

Pelatihan yang digelar di Aula Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kotamobagu ini menjadi bagian dari upaya sistematis BAZNAS dalam menjaga keberlanjutan praktik keagamaan yang bersifat kolektif. Fardhu kifayah, sebagai kewajiban bersama umat Islam, tidak hanya dipahami sebagai ritual, tetapi juga sebagai indikator kesiapan sosial masyarakat dalam menghadapi situasi-situasi penting, seperti pengurusan jenazah.

Dalam konteks ini, keterlibatan Pemerintah Kota Kotamobagu menunjukkan bahwa negara, melalui pemerintah daerah, tidak hanya berperan dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam menjaga ketahanan sosial berbasis nilai-nilai keagamaan. Dukungan tersebut sekaligus memperkuat legitimasi BAZNAS sebagai lembaga pengelola zakat yang tidak hanya fokus pada distribusi bantuan, tetapi juga pada edukasi dan pemberdayaan umat.

Menariknya, pelatihan ini secara khusus menyasar kelompok muslimah. Hal ini mengindikasikan pengakuan terhadap peran strategis perempuan dalam praktik sosial-keagamaan di masyarakat. Dalam banyak komunitas, perempuan kerap menjadi garda terdepan dalam pelaksanaan fardhu kifayah, terutama dalam pengurusan jenazah perempuan. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memperkuat kapasitas sosial perempuan di tingkat akar rumput.

Di sisi lain, apresiasi kepada muzaki dan munfiq menggarisbawahi pentingnya partisipasi publik dalam mendukung program-program keumatan. Keberhasilan kegiatan semacam ini sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat terhadap BAZNAS. Semakin tinggi kepercayaan tersebut, semakin besar pula potensi penghimpunan zakat dan infak yang dapat dikelola untuk kegiatan produktif maupun sosial.

Pernyataan Kamal Babay yang mendorong peserta untuk menularkan pengetahuan hingga ke tingkat RT dan dusun juga menunjukkan strategi desentralisasi pengetahuan. Jika berjalan efektif, pendekatan ini dapat menciptakan efek berantai yang memperkuat kapasitas masyarakat secara mandiri tanpa ketergantungan berlebihan pada lembaga formal.

Dengan demikian, kegiatan ini dapat dibaca sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan sosial berbasis komunitas di Kotamobagu. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam memastikan nilai-nilai keagamaan tetap hidup sekaligus relevan dengan kebutuhan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *