banner 728x250

Dari Ajang Stunting ke Panggung Kreativitas, Cara TP-PKK Kotamobagu Menjaga Asa Anak Muda

banner 120x600

beritasulut.id Kotamobagu – Sorak tepuk tangan menggema di arena Grand Final Duta Cegah Stunting Sulawesi Utara di Manado. Di tengah deretan finalis terbaik dari berbagai daerah, nama Kota Kotamobagu kembali disebut sebagai salah satu yang berhasil mencuri perhatian.

Bagi sebagian orang, kemenangan Chrismart Imanuel dan Megrisa Hidayat mungkin hanya dipandang sebagai prestasi lomba biasa. Namun di balik itu, ada cerita lebih besar tentang bagaimana generasi muda diberi ruang untuk tumbuh, didengar, dan dipercaya.

Di barisan pendukung, Ketua TP-PKK Kotamobagu, Rindah Gaib Mokoginta, tampak tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Baginya, keberhasilan para delegasi muda itu bukan sekadar trofi atau gelar juara, melainkan bukti bahwa anak muda Kotamobagu memiliki potensi besar jika diberikan kesempatan yang tepat.

“Anak muda harus diberi ruang untuk berkembang. Mereka punya ide, kreativitas, dan semangat yang luar biasa,” ujar Rindah.

Kalimat itu bukan sekadar dukungan simbolik. Dalam beberapa tahun terakhir, TP-PKK Kotamobagu mulai menunjukkan wajah baru yang lebih dekat dengan dunia anak muda. Jika dulu organisasi perempuan identik dengan urusan domestik dan pembinaan keluarga semata, kini TP-PKK mencoba hadir sebagai mitra bagi generasi muda untuk bertumbuh dalam berbagai bidang.

Bukan hanya kesehatan, tetapi juga kreativitas, inovasi, hingga pengembangan kapasitas diri.

Menurut Rindah Gaib Mokoginta, era digital menuntut generasi muda untuk tampil sebagai pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penonton. Karena itu, ruang-ruang positif harus terus dibuka agar energi anak muda tidak tersesat pada hal-hal negatif.

Di Kota Kotamobagu, semangat itu mulai terlihat. Anak-anak muda kini semakin sering tampil dalam kegiatan sosial, edukasi kesehatan, kampanye lingkungan, hingga industri kreatif. Kehadiran para duta cegah stunting menjadi contoh bagaimana isu kesehatan pun dapat dikemas lebih dekat dengan bahasa generasi muda.

Bagi TP-PKK, prestasi Chrismart dan Megrisa menjadi sinyal bahwa pembinaan yang tepat mampu melahirkan hasil nyata. Keduanya bukan hanya tampil membawa nama daerah, tetapi juga membawa pesan penting tentang kesadaran gizi, kesehatan remaja, dan masa depan keluarga.

“Jangan takut berinovasi. Kotamobagu punya banyak talenta hebat,” kata Rindah penuh optimisme.

Pesan itu terasa sederhana, tetapi memiliki makna besar bagi generasi Z dan Alfa di daerah. Bahwa pemerintah dan organisasi pendukung tidak lagi hadir dengan pendekatan kaku, melainkan mulai membuka diri sebagai fasilitator mimpi dan kreativitas anak muda.

Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, langkah seperti ini menjadi penting. Sebab membangun daerah hari ini bukan hanya soal infrastruktur dan pembangunan fisik, tetapi juga tentang bagaimana menyiapkan generasi muda yang percaya diri, kreatif, dan mampu bersaing.

Dan dari sebuah panggung pemilihan duta stunting di Sulawesi Utara, Kota Kotamobagu sedang menunjukkan satu hal: masa depan daerah juga sedang dipersiapkan lewat tangan-tangan muda yang diberi kesempatan untuk bersinar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *